Alienware 17
Baru – baru ini, Dell juga telah menyediakan pilihan Graphics
Amplifier untuk produk seri ini. Performa yang disuguhkan juga sangat
memuaskan berbekap prosesor Intel Core i7 4910MQ dengan kecepatan 2,9
GHz yang dipadukan dengan RAM berkapasitas 16 GB. Pengolah grafis laptop
ini menggunakan Nvidia GeForce GTZ 880 M. Sesuai dengan namanya, laptop
ini dibekali dengan layar berukuran 17 inch sehingga menjadikannya
memiliki bodi yang cukup besar namun memberikan tampilan yang memuaskan
untuk keperluan gaming. Selain handal untuk gaming, laptop ini juga
handal untuk keperluan lainnya. Laptop ini dibekali dengan fitur
konektivitas meliputi USB 3.0, port HDMI, headphone Jack, Bluetooth,
WiFi, dan beberapa fitur lainnya. Daya tahan baterai pada laptop ini
tergolong singkat yaitu 3 jam 12 menit. Untuk harganya, laptop ini
dibanderol Rp 27 jutaan
Alienware 15
Hampir sama dengan Alienware 13, laptop ini juga merupakan produk
laptop terbaru dari Alienware. Laptop ini dibekali dengan layar
berukuran 15 inch dan dilengkapi dengan pilihan graphics amplifier.
Laptop ini menawarkan performa yang handal berkat kehadiran prosesor
Intel Core i7 4710 HQ. Sistem pengolah grafis yang digunakan pada laptop
ini mengandalkan Nvidia GeForce GTX 970M. Bobot laptop ini juga cukup
berat yakni 3 kg. Sistem operasi pada laptop ini menggunakan OS Windows
81. 64 bit. Untuk harganya sendiri, laptop ini dibanderol dengan harga
mulai dari $ 1,199,.99 atau sekitar Rp 13 jutaan
Alienware 13
Ini adalah laptop varian terbaru dari Alienware. Dengan pilihan
Graphcis Amplifier, hal ini tentunya dapat memberikan pengalaman gaming
yang sesungguhnya untuk para gamers. Laptop ini ditenagai oleh prosesor
Intel Core i7 dan berjalan dengan sistem operasi Windows 8.1 64 bit.
Pengolah grafis yang digunakan oleh laptop ini juga sudah mumpuni dengan
Nvidia GeForce GTX 640M. Kapasitas penyimpanan yang digunakan pada
laptop ini adalah 256 GB dengan tipe Solid State Drive dengan kapasitas
memori RAM yang besar yakni 16 GB.
Sesuai dengan namanya, laptop ini dibekali dengan layar berukuran 13
inch. Layar tersebut menawarkan resolusi 1080p. Laptop 13 inch ini hadir
dengan bobot sebesar 4,5 pon. Audio pada laptop ini dipersembahkan oleh
Klipsch yang memberikan kualitas mumpuni. Fitur konektivitas yang
disediakan meliputi USB 3.0, 3.5 mm audio Jack, dan Ethernet. Harga yang
dibanderol oleh Alienware untuk laptop ini mulai dari $ 999 atau
sekitar Rp 11 jutaan
Notebook Gaming ASUS ROG GX700 Jejakkan Kakinya di Indonesia
Pertama kali diperkenalkan di ajang IFA 2015, notebook/laptop gaming ASUS ROG GX700
akhirnya diperkenalkan untuk pasar Indonesia di acara ASUS ROG Unleash
pada hari Kamis lalu. ASUS ROG GX700 memang sempat menjadi perbincangan
sejak penampakan perdananya beberapa bulan lalu. Tidak aneh jika ASUS
ROG GX700 mendapatkan perhatian lebih mengingat untuk pertama kalinya
sebuah notebook/laptop menggunakan sistem pendingin liquid cooling seperti
sekarang umum digunakan di platform desktop. Seperti kita ketahui
umumnya sebuah notebook/laptop hadir mengandalkan sistem pendingin air cooling.
ASUS ROG GX700 sendiri terdiri dari dua unit terpisah yaitu notebook/laptop dan modul liquid cooling. Pada saat dua unit terpisah, ASUS ROG GX700 menggunakan sistem pendingin air cooling. Sedangkan
pada saat dua unit tersebut disatukan, ASUS ROG GX700 menggabungkan
metode pendinginan dengan media udara sekaligus cairan. Sistem
pendingin liquid cooling ASUS ROG GX700 dilengkapi dua radiator dan satu saluran untuk mengalirkan cairan.
Penggunaan sistem pendingin liquid cooling diklaim mampu memberikan temperatur kerja prosesor 18% lebih rendah dan 12% lebih rendah untuk graphics card.
Implementasi sistem pendingin liquid cooling memang bukan tanpa alasan mengingat notebook/laptop gaming ini memang dirancang untuk dapat di overclock. Lihat saja penggunaan prosesor Core i7 6820HK (Base 2,6 GHz | Turbo 3,7 GHz) yang dapat di dongkrak performanya hingga clock speed 4,1
GHz. Sementara itu untuk unit pengolah grafis ASUS ROG GX700
menggunakan graphics card notebook/laptop paling kencang dimuka bumi
yaitu GeForce GTX 980 8 GB GDDR5. Untuk memori notebook/laptop gaming ini mendukung kapasitas hingga 64 GB dengan kecepatan mencapai 2800 MHz. Komponen storageSSD NVMe (PCIe 3.0 x4) dengan kapasitas 512 GB juga digunakan untuk memastikan performa sistem lebih optimal dan responsivitas sistem terbaik.
Tidak sampai disitu saja, untuk menjamin pengalaman bermain maksimal,
ASUS ROG GX700 menggunakan layar LCD LED IPS 1920 x 1080 piksel dengan
teknologi NVIDIA G-SYNC. Alhasil game dapat ditampilkan dengan sempurna tanpa gejala image tearing, stutter, dan input lag.
ASUS ROG GX700 dapat dimiliki dengan menggelontorkan dana sekitar Rp. 79.999.000,-
dan akan mendapatkan garansi global selama dua tahun. Paket
penjualan ASUS ROG GX700 meliputi unit notebook/laptop gaming itu
sendiri, mouse ROG SICA, headset ROG STRIX 7.1, jersey ASUS ROG, dan koper ROG Command untuk memboyong sistem gaming ini kemanapun Anda melangkah.
NerveGear dan SAO The Beginning
Berapa banyak gamer yang bersorak-sorai ketika IBM Jepang secara
resmi mengumumkan bahwa mereka tengah terlibat dalam sebuah proyek untuk
menjadikan teknologi di balik anime populer – Sword Art Online –
menjadi sesuatu yang bisa dinikmati di dunia nyata. Menjadikannya
sebagai sebuah game virtual reality, proyek yang disebut sebagai Sword Art Online: The Beginning ini sendiri bahkan kabarnya sudah masuk ke dalam tahap alpha yang akan diujikan ke lebih dari 208 pendaftar di Tokyo, Jepang.
Ada spekulasi tersendiri yang menyebut bahwa yang dilakukan IBM Jepang
ini hanyalah sebuah event bohongan untuk mempromosikan proyek SAO yang
lain. Namun ternyata tidak demikian. Screenshot perdana untuk proyek ini akhirnya mengemuka!
IBM Jepang akhirnya merilis serangkaian screenshot perdana untuk Sword Art Onine: The Beginning. Salah satunya dengan jelas memperlihatkan sudut pandang gameplay yang tampaknya akan diambil dari sudut pandang orang pertama, dengan UI yang terasa familiar.
NerveGear di dunia nyata! Tentu saja, teknologi tak semutakhir di versi
anime. Perangkat ini dibangun dengan kombinasi Oculus Rift DK2 dan
Kinect V2.
Anda juga bisa melihat sedikit dunia seperti apa yang ia tawarkan.
Yang menarik, di luar konten game yang disuntikkan, IBM juga
memperlihatkan untuk pertama kalinya – NerveGear di dunia nyata! Tentu
saja, ia tak secanggih teknologi NerveGear di versi animenya. NerveGear
versi IBM ini adalah sebuah kombinasi teknologi antara Oculus Rift DK2 dan sebuah sensor Kinect V2 yang kabarnya bisa mendeteksi gerak kaki Anda.
Alpha test SAO: The Beginning yang sempat diumumkan oleh IBM Jepang
beberapa waktu yang lalu tersebut ternyata disebut berhasil mengundang
tak lebih dari 100.000 orang pendaftar. IBM sendiri hanya memilih 208
orang darinya yang beruntung untuk bisa mencicipi proyek ini secara
langsung tanggal 18 – 20 Maret 2016 mendatang.
Bagaimana dengan Anda, gamer penggemar SAO yang sangat tertarik
dengan proyek ini? Apakah serangkaian screenshot perdana ini memenuhi
apa yang Anda harapkan?
Teknologi virtual reality yang sedang happening sejatinya bukan hal
baru. Teknologi visual ini bahkan sudah diakui keberadaannya sejak tahun
90-an. Kala itu perusahaan game raksasa asal Jepang, Nintendo, pernah
menciptakan perangkat virtual reality yang dinamakan Virtual Boy di
tahun 1995 silam.
Meski memiliki ukuran yang tak jauh berbeda
dengan perangkat headset virtual reality di masa sekarang, Virtual Boy
menyajikan konten yang jauh tertinggal. Virtual Boy menyajikan game 3D
eka warna dengan efek parallax.
Bisa dibayangkan betapa pusingnya
teknologi virtual reality kala itu. Sayang, perangkat tersebut nyatanya
tidak cukup futuristik untuk beredar di pasaran dan akhirnya dihentikan
peredarannya 6 bulan setelah diluncurkan.
Kini, setelah hampir
20 tahun berselang, teknologi VR muncul kembali dengan bentuk dan konten
lebih modern. Sejumlah perusahaan teknologi berlomba-lomba untuk
menciptakan perangkat serupa, salah satunya adalah Samsung.
Vendor
asal Korea Selatan ini tampaknya tak mau ketinggalan momen. Karenanya,
Samsung kemudian menggandeng pakar virtual reality — Oculus -- untuk
menggarap headset virtual reality bernama Gear VR. Selama bertahun-tahun
melewati masa pengembangan, akhirnya perangkat ini menyambangi pasar
Indonesia.
Dibanderol Rp 1,5 juta, Gear VR direncanakan untuk
disebar ke seluruh pasar Indonesia pada akhir bulan Februari 2016.
Beruntung, detikINET berkesempatan untuk menjajal terlebih dahulu Gear VR. Seperti apa rasanya? Simak impresi kami berikut ini.
Desain Bongsor nan Modern
Berbicara
mengenai desain, harus diakui bahwa desain yang diusung oleh Gear VR
memang bongsor dengan sentuhan gaya modern. Bila dibandingkan dengan
Oculus Rift, Gear VR memiliki bentuk yang tidak jauh berbeda. Ya, ini
karena baik Rift maupun Gear VR dikembangkan oleh perusahaan yang sama.
Yang
membedakan di sini adalah mesin yang mengolah gambar virtual reality.
Gear VR memiliki prinsip yang serupa dengan Cardboard, yakni menggunakan
smartphone sebagai penampil virtual reality. Dengan kata lain, Gear VR
diposisikan sebagai medium yang menopang smartphone untuk memproyeksikan
konten virtual reality lewat aplikasi yang hadir di smartphone.
Sayangnya, bila Cardboard bisa dipakai di hampir semua smartphone (asal
terdapat sensor Gyro), maka Gear VR hanya terbatas pada smartphone
keluaran Samsung. Itu pun tidak semua seri Samsung bisa dipakai, hanya
sebatas Galaxy Note 5, Galaxy S6, S6 Edge, dan S6 Edge+. Lalu bagaimana
dengan smartphone lain? Nanti akan kami bahas di sesi berikutnya.
Tidak
banyak perintilan yang hadir, hanya ada dua buah strap (tali) pengikat
dan buku petunjuk beserta kartu garansi. Penggunaan strap hampir sama
dengan Rift, yakni silang dari depan ke belakang dipadu dengan strap di
samping kiri dan kanan. Karena terbuat dari bahan karet, strap Gear VR
bisa menyesuaikan dan disesuaikan dengan ukuran kepala.
Bicara
warna, Gear VR memang hanya hadir dengan cipratan warna kombinasi putih
dan hitam. Dengan finishing semi dop, penggunaan yang tidak hati-hati
bisa membuat warna putih tadi menjadi kusam. Samsung meletakkan hampir
semua tombol navigasi di sisi kanan, sementara di sisi samping kiri
terdapat tulisan Gear VR powered by Oculus.
Kontrol Gear VR bisa
dilakukan dengan menggerakan kepala dan/atau menggunakan touch pad dan
tombol back. Dari pengalaman detikINET, penggunaan touch pad sangat
sensitif, malah terkadang terlewat sensitif. Seperti contoh, ketika akan
menggeser-geser deretan konten yang tersedia konten kerap tidak sengaja
terpencet.
Seperti yang dikatakan di awal, Gear VR bekerja dengan cara
menyambungkannya dengan smartphone. Cara menyambungkannya terbilang
mudah, cukup buka cover bagian depan dan colokan gadget dengan mikro USB
yang tersedia di dalamnya. Sensor yang berada di bagian depan secara
otomatis akan mendeteksi dan memulai konten apabila Anda mengenakan
headset.
Masih Bikin Pusing?
Ketika
berbicara virtual reality, tentu hal yang paling utama adalah soal
konten. Dan hingga kini, rasanya sudah banyak developer-developer yang
mengembangkan konten 360 derajat yang bisa kita jumpai di toko aplikasi
digital. Khusus untuk Gear VR, Samsung menyediakan konten lewat Oculus
Store.
Pihak Samsung Indonesia mengklaim bahwa saat ini sudah ada
sekitar 150 konten yang sudah bisa dinikmati oleh pengguna Gear VR.
Memang ketika membuka Oculus Store kami menemukan banyak sekali konten,
mulai dari foto, video 360 derajat, hingga game. Meski demikian,
sayangnya game atau aplikasi yang terlihat menarik tidak tersedia dengan
cuma-cuma. Anda harus merogoh kocek minimal USD 5.
Konten virtual reality hingga kini identik dengan timbulnya rasa mual atau dikenal dengan istilah motion sickness.
Meski Samsung mengklaim telah mengurangi rasa motion sickness tadi,
faktanya masih ada pengguna yang merasakan hal seperti itu.
Dari pengalaman detikINET, beberapa pengguna kerap mengalami motion sickness
dalam pemakaian beberapa menit. Namun, ada pula yang tahan lebih lama.
Selain kebiasaan pengguna, rasa mual bisa jadi timbul akibat konten yang
dilihat. Virtual reality akan terasa mual apabila konten tersebut
bergerak sangat cepat. Seperti misalnya, game Temple Run VR atau
menonton Roller Coaster.
Pun begitu, banyak pulan konten yang
menyenangkan dan tidak membuat mual. Seperti menonton video bukan yang
360 derajat atau konten tersebut tidak membutuhkan respons gerakan
cepat. Cukup diakui konten yang tersedia rata-rata sangat menghibur.
Selain YouTube, Twitch, dan Vimeo, Anda juga bisa menyaksikan tayangan
Netflix melalui Gear VR.
Memang tayangan seperti Netflix tidak
hadir dengan format 360 derajat, tapi Anda akan merasakan sensasi
menonton tayangan Netflix seperti sedang berada di dalam studio, lengkap
dengan sofa dan kopi. Tak hanya sebatas konten yang ada di dalam Oculus
Store, Anda juga bisa menyaksikan konten virtual reality lainnya yang
tersedia di Google PlayStore selama smartphone tersebut tidak berada
dalam kondisi menyolok USB.
Nah, seperti janji kami sebelumnya,
bagaimana jika ingin memasangkan Gear VR dengan smartphone non Samsung?
Jawabannya, bisa saja! Asalkan smartphone itu memiliki bentang layar
antara 5-5,5 inch dan tidak dicolokkan dengan USB headset. Tapi itu juga
tidak semua smartphone pas dengan slot headset. Terkadang, seperti
Nexus 5 bisa terlepas dari cengkraman headset.
Seperti pemain besar di industri teknologi lain, Valve melihat potensi luas yang menanti untuk dibuka dalam virtual reality. Di Steam Dev Days 2014, mereka ungkap keyakinan bahwa VR akan jadi platform besar melampaui TV dan teater. Tapi saat itu, Valve baru memperlihatkan dukungan dari sisi software. Kita penasaran, apa jadinya jika mereka buat perangkat VR sendiri?
Setelah setahun tanpa berita baru terkait perangkat VR Valve, akhirnya secara resmi mereka membuat pengumuman,
“Jagat Steam sedang diperluas.” Valve tampaknya bermaksud menyingkap
dan meluncurkan beberapa proyek besar di acara Game Developers
Conference 2015 minggu depan. Beberapa telah dinanti dan sudah bisa
diprediksi, namun hal paling menarik adalah disebutkannya sistem hardware SteamVR.
SteamVR awalnya merupakan software, sebuah medium agar Oculus Rift dapat bekerja optimal dengan Steam serta ekosistem Steam Machines. Ia dihadirkan via update Steam Client Beta, memungkinkan para pemilik headset
VR milik Facebook itu menjajalnya dengan mengikuti beberapa instruksi.
Tapi rencana Valve sebenarnya tidak terhenti sampai pada dukungan
perangkat lunak, karena menciptakan device VR ialah visi jangka panjang Valve.
Mengutip dari penjelasan sang pembuat Half-Life di Steam Developer Days 2014, hardware
akan dihadirkan dua tahun sesudah mulai digarap. Yang menjadi tantangan
terbesarnya adalah bagaimana menyiapkan isi Steam agar siap dinikmati
dalam virtual reality. Valve juga tak malu memberi tahu bahwa
mereka secara aktif sedang mencari para pencipta konten, mengajak
talenta kreatif untuk ambil bagian dalam proyek tersebut.
Selain SteamVR, Valve turut menyebutkan agenda demonstrasi versi
terbaru Steam Controller, serta beragam ‘perangkat khusus ruang
keluarga’ baru. Anehnya Valve tidak menyinggung Steam Machines – PC
bertema console dari produsen berbeda yang dipadu sistem operasi open-source
SteamOS sebagai jantungnya. Perilisan Steam Machines terpaksa ditunda
dari akhir 2014 ke awal 2015 sebab Valve merasa desain Steam Controller
perlu dirombak kembali.
Pada tulisan kecil di bawah ‘The Steam Universe is expanding’, Valve menuturkan, “Ribuan game, jutaan gamer. Semua yang Anda cintai mengenai Steam, hadir tahun ini di keluarga baru perangkat hiburan bertenaga.” Sangat menarik bukan?
Jika Anda tertarik untuk mencoba Dev Kit SteamVR, silakan isi formulir di SteamPowered.com, diutamakan bagi para developer.
GDC 2015 akan berlangsung tanggal 2 sampai 6 Maret 2015 di Moscone
Center San Francisco. Sedangkan demo VR Valve dibuka mulai tanggal 4
Maret.
Dikerjakan bersama-sama oleh Valve Corporation dan HTC, perangkat head-mounted virtual reality Vive uniknya masih merupakan anggota keluarga RE – terdiri dari RE Camera dan RE Grip. Vive sangat menjanjikan karena bagian software serta hardware diramu oleh dua spesialis berbeda. Berita baiknya lagi, kita tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menjajal Vive.
Sebelum diungkap HTC di Mobile World Congress 2015 (menjelang ajang keynote Valve di Game Developers Conference 2015), beberapa buah model prototype
telah Valve produksi dan demonstrasikan pada tahun 2014. Kedua
perusahaan memang berencana melepas Vive di penghujung tahun ini, kurang
lebih bulan November. Dan sesuai penjelasan mereka dulu, batch pertama versi developer baru saja didistribusikan.
Kabar tersebut muncul di laman Steam Community. Di sana Chet Faliszek
dari Valve menginformasikan bagaimana Vive telah mulai dibagi-bagikan
pada studio film Hollywood, developer kenamaan, hingga tim-tim developer game independen kecil minggu lalu. Proses shipping
akan terus dilanjutkan hingga Musim Semi dan Panas, meski belum ada
pengumuman mengenai seberapa banyak unit Vive yang telah disiapkan.
Di dalam packaging Developer Edition, Anda akan menemukan satu unit perangkat virtual reality, dua buah base station Lighthouse, dua controller wireless SteamVR, kabel-kabel, lembar panduan, serta pernak-pernik pelengkap lain. Bundel ini sengaja diusung supaya mempermudah developer memproyeksikan sistem hardware milik konsumen saat versi retail tersedia nanti.
Valve dan HTC memang belum memublikasi spesifikasi kebutuhan
perangkat keras buat mendukung Vive. Tapi berdasarkan laporan terdahulu,
headset VR itu menyuguhkan refresh rate 90Hz, di mana konten di-render dalam 90 gambar per detik, serta mempunyai dua buah layar untuk masing-masing mata dengan resolusi 1200×1080-pixel. Device ditopang oleh lebih dari 70 sensor, termasuk MEMS gyroscope, accelerometer hingga sensor posisi laser.
Komponen paling menarik dari ekosistem SteamVR ialah Lighthouse.
Valve tampaknya masih enggan menyingkap seluruh kemampuan serta rahasia
Lighthouse. Pada dasarnya, ia adalah sistem laser-tracking 3D untuk mendeteksi posisi pengguna. Tugas unit base station
adalah memproduksi laser dengan fungsi memindai ruangan, menjadikannya
titik referensi, yang kemudian akan dibaca oleh sensor-sensor.
Lighthouse beroperasi di ruang seluas 4,5×4,5 meter.
Sejauh ini cuma pemilik Vive Developers Edition saja yang dapat melakukan posting di forum SteamVR Hardware Group, tapi seisi komunitas turut diundang untuk membaca dan mengikuti kemajuan virtual reality sewaktu developer sibuk mengembangkan kontennya.
Kehadiran perangkat teknologi virtual reality tampaknya akan semakin banyak. Setelah sebelumnya beberapa perusahaan lain telah lebih dulu mengumumkan perangkat virtual reality milik mereka.
Kali ini giliran Sony yang resmi mengumumkan perangkat virtual reality mereka yang diberi nama PlayStation VR.
Diumumkannya perangkat virtual reality Sony ini bersamaan dengan gelaran Tokyo Game Show Conference. Sebenarnya, perangkat virtual reality
ini sudah diinformasikan sejak beberapa bulan lalu, namun kala itu Sony
belum memiliki nama resmi untuk perangkatnya ini, dan masih berupa
proyek yang diberi nama proyek Morpheus.
Dikutip dari laman IGN, Selasa (15/9/2015), perangkat virtual reality Sony ini belum secara resmi akan tersedia untuk konsumen umum. Pun demikian, tersiar kabar bahwa telah ada beberapa proyek virtual reality dari Sony yang telah disiapkan untuk perangkat virtual reality milik Sony ini, salah satunya adalah game dari Square Enix, yakni Final Fantasy XIV online.
"Kami
masih akan terus memperbagus perangkat ini dari berbagai macam aspek,
sambil terus bekerja dengan pengembang aplikasi pihak ketiga dan
penerbit. Dengan begitu kami dapat membawa konten untuk menghadirkan
pengalaman luar biasa yang hanya dapat dilakukan dengan perangkat virtual reality," tegas Masayasu Ito, Division President of PS Product Business & VP, Software Design Division Sony.
Sony sendiri bukanlah perusahaan pertama yang resmi terjun ke bidang virtual reality. Beberapa perusahaan lain seperti Microsoft dan Oculus juga telah terlebih dulu mengumumkan perangkat virtual reality besutan mereka. Bahkan, Facebook juga dikabarkan tengah menggarap aplikasi video berbasis virtual reality.