Kamis, 09 Juni 2016

Laptop_Gaming_Post_4_Alienware_17

Alienware 17
Baru – baru ini, Dell juga telah menyediakan pilihan Graphics Amplifier untuk produk seri ini. Performa yang disuguhkan juga sangat memuaskan berbekap prosesor Intel Core i7 4910MQ dengan kecepatan 2,9 GHz yang dipadukan dengan RAM berkapasitas 16 GB. Pengolah grafis laptop ini menggunakan Nvidia GeForce GTZ 880 M. Sesuai dengan namanya, laptop ini dibekali dengan layar berukuran 17 inch sehingga menjadikannya memiliki bodi yang cukup besar namun memberikan tampilan yang memuaskan untuk keperluan gaming. Selain handal untuk gaming, laptop ini juga handal untuk keperluan lainnya. Laptop ini dibekali dengan fitur konektivitas meliputi USB 3.0, port HDMI, headphone Jack, Bluetooth, WiFi, dan beberapa fitur lainnya. Daya tahan baterai pada laptop ini tergolong singkat yaitu 3 jam 12 menit. Untuk harganya, laptop ini dibanderol Rp 27 jutaan

alienware 17
alienware 17-3

alienware17-2
https://teknorus.com/review-3-produk-laptop-alienware-tercanggih-2015/

Laptop_Gaming_Post_3_Alienware_15

Alienware 15
Hampir sama dengan Alienware 13, laptop ini juga merupakan produk laptop terbaru dari Alienware. Laptop ini dibekali dengan layar berukuran 15 inch dan dilengkapi dengan pilihan graphics amplifier. Laptop ini menawarkan performa yang handal berkat kehadiran prosesor Intel Core i7 4710 HQ. Sistem pengolah grafis yang digunakan pada laptop ini mengandalkan Nvidia GeForce GTX 970M. Bobot laptop ini juga cukup berat yakni 3 kg. Sistem operasi pada laptop ini menggunakan OS Windows 81. 64 bit. Untuk harganya sendiri, laptop ini dibanderol dengan harga mulai dari $ 1,199,.99 atau sekitar Rp 13 jutaan


alienware 15
https://teknorus.com/review-3-produk-laptop-alienware-tercanggih-2015/

Laptop_Gaming_Post_2_Alienware_13

Alienware 13
Ini adalah laptop varian terbaru dari Alienware. Dengan pilihan Graphcis Amplifier, hal ini tentunya dapat memberikan pengalaman gaming yang sesungguhnya untuk para gamers. Laptop ini ditenagai oleh prosesor Intel Core i7 dan berjalan dengan sistem operasi Windows 8.1 64 bit. Pengolah grafis yang digunakan oleh laptop ini juga sudah mumpuni dengan Nvidia GeForce GTX 640M. Kapasitas penyimpanan yang digunakan pada laptop ini adalah 256 GB dengan tipe Solid State Drive dengan kapasitas memori RAM yang besar yakni 16 GB.
Sesuai dengan namanya, laptop ini dibekali dengan layar berukuran 13 inch. Layar tersebut menawarkan resolusi 1080p. Laptop 13 inch ini hadir dengan bobot sebesar 4,5 pon. Audio pada laptop ini dipersembahkan oleh Klipsch yang memberikan kualitas mumpuni. Fitur konektivitas yang disediakan meliputi USB 3.0, 3.5 mm audio Jack, dan Ethernet. Harga yang dibanderol oleh Alienware untuk laptop ini mulai dari $ 999 atau sekitar Rp 11 jutaan


alienware 13

https://teknorus.com/review-3-produk-laptop-alienware-tercanggih-2015/

Laptop_Gaming_Post_1_ASUS_ROG_GX700

Notebook Gaming ASUS ROG GX700 Jejakkan Kakinya di Indonesia

ASUS ROG Unleash 01
Pertama kali diperkenalkan di ajang IFA 2015, notebook/laptop gaming ASUS ROG GX700 akhirnya diperkenalkan untuk pasar Indonesia di acara ASUS ROG Unleash pada hari Kamis lalu. ASUS ROG GX700 memang sempat menjadi perbincangan sejak penampakan perdananya beberapa bulan lalu. Tidak aneh jika ASUS ROG GX700 mendapatkan perhatian lebih mengingat untuk pertama kalinya sebuah notebook/laptop menggunakan sistem pendingin liquid cooling seperti sekarang umum digunakan di platform desktop. Seperti kita ketahui umumnya sebuah notebook/laptop hadir mengandalkan sistem pendingin air cooling.
ASUS ROG Unleash 04
ASUS ROG Unleash 05
ASUS ROG GX700 sendiri terdiri dari dua unit terpisah yaitu notebook/laptop dan modul liquid cooling. Pada saat dua unit terpisah, ASUS ROG GX700 menggunakan sistem pendingin air cooling. Sedangkan pada saat dua unit tersebut disatukan, ASUS ROG GX700 menggabungkan metode pendinginan dengan media udara sekaligus cairan. Sistem pendingin liquid cooling ASUS ROG GX700 dilengkapi dua radiator dan satu saluran untuk mengalirkan cairan.
ASUS ROG Unleash 06
Penggunaan sistem pendingin liquid cooling diklaim mampu memberikan temperatur kerja prosesor 18% lebih rendah dan 12% lebih rendah untuk graphics card.
ASUS ROG Unleash 02
Implementasi sistem pendingin liquid cooling memang bukan tanpa alasan mengingat notebook/laptop gaming ini memang dirancang untuk dapat di overclock. Lihat saja penggunaan prosesor Core i7 6820HK (Base 2,6 GHz | Turbo 3,7 GHz) yang dapat di dongkrak performanya hingga clock speed 4,1 GHz. Sementara itu untuk unit pengolah grafis ASUS ROG GX700 menggunakan graphics card notebook/laptop paling kencang dimuka bumi yaitu GeForce GTX 980 8 GB GDDR5. Untuk memori notebook/laptop gaming ini mendukung kapasitas hingga 64 GB dengan kecepatan mencapai 2800 MHz. Komponen storage SSD NVMe (PCIe 3.0 x4) dengan kapasitas 512 GB juga digunakan untuk memastikan performa sistem lebih optimal dan responsivitas sistem terbaik.
ASUS ROG Unleash 03
Tidak sampai disitu saja, untuk menjamin pengalaman bermain maksimal, ASUS ROG GX700 menggunakan layar LCD LED IPS 1920 x 1080 piksel dengan teknologi NVIDIA G-SYNC. Alhasil game dapat ditampilkan dengan sempurna tanpa gejala image tearing, stutter, dan input lag.
ASUS ROG Unleash 07
ASUS ROG GX700 dapat dimiliki dengan menggelontorkan dana sekitar Rp. 79.999.000,- dan akan mendapatkan garansi global selama dua tahun. Paket penjualan ASUS ROG GX700 meliputi unit notebook/laptop gaming itu sendiri, mouse ROG SICA, headset ROG STRIX 7.1, jersey ASUS ROG, dan koper ROG Command untuk memboyong sistem gaming ini kemanapun Anda melangkah.

http://www.jagatreview.com/2016/04/notebook-gaming-asus-rog-gx700-jejakkan-kakinya-di-indonesia/

Virtual_Reality_Post_4

NerveGear dan SAO The Beginning
sao the beginning3
Berapa banyak gamer yang bersorak-sorai ketika IBM Jepang secara resmi mengumumkan bahwa mereka tengah terlibat dalam sebuah proyek untuk menjadikan teknologi di balik anime populer – Sword Art Online – menjadi sesuatu yang bisa dinikmati di dunia nyata. Menjadikannya sebagai sebuah game virtual reality, proyek yang disebut sebagai Sword Art Online: The Beginning ini sendiri bahkan kabarnya sudah masuk ke dalam tahap alpha yang akan diujikan ke lebih dari 208 pendaftar di Tokyo, Jepang. Ada spekulasi tersendiri yang menyebut bahwa yang dilakukan IBM Jepang ini hanyalah sebuah event bohongan untuk mempromosikan proyek SAO yang lain. Namun ternyata tidak demikian. Screenshot perdana untuk proyek ini akhirnya mengemuka!
sao the beginning4
sao the beginning2
sao the beginning1
sao the beginning
IBM Jepang akhirnya merilis serangkaian screenshot perdana untuk Sword Art Onine: The Beginning. Salah satunya dengan jelas memperlihatkan sudut pandang gameplay yang tampaknya akan diambil dari sudut pandang orang pertama, dengan UI yang terasa familiar.

NerveGear di dunia nyata! Tentu saja, teknologi tak semutakhir di versi anime. Perangkat ini dibangun dengan kombinasi Oculus Rift DK2 dan Kinect V2.
NerveGear di dunia nyata! Tentu saja, teknologi tak semutakhir di versi anime. Perangkat ini dibangun dengan kombinasi Oculus Rift DK2 dan Kinect V2.
Anda juga bisa melihat sedikit dunia seperti apa yang ia tawarkan. Yang menarik, di luar konten game yang disuntikkan, IBM juga memperlihatkan untuk pertama kalinya – NerveGear di dunia nyata! Tentu saja, ia tak secanggih teknologi NerveGear di versi animenya. NerveGear versi IBM ini adalah sebuah kombinasi teknologi antara Oculus Rift DK2 dan sebuah sensor Kinect V2 yang kabarnya bisa mendeteksi gerak kaki Anda.
Alpha test SAO: The Beginning yang sempat diumumkan oleh IBM Jepang beberapa waktu yang lalu tersebut ternyata disebut berhasil mengundang tak lebih dari 100.000 orang pendaftar.  IBM sendiri hanya memilih 208 orang darinya yang beruntung untuk bisa mencicipi proyek ini secara langsung tanggal 18 – 20 Maret 2016 mendatang.
Bagaimana dengan Anda, gamer penggemar SAO yang sangat tertarik dengan proyek ini? Apakah serangkaian screenshot perdana ini memenuhi apa yang Anda harapkan?

 http://jagatplay.com/2016/03/news/sword-art-online-versi-vr-rilis-screenshot-perdana-perlihatkan-nervegear/

Virtual_Reality_Post_3

Teknologi virtual reality yang sedang happening sejatinya bukan hal baru. Teknologi visual ini bahkan sudah diakui keberadaannya sejak tahun 90-an. Kala itu perusahaan game raksasa asal Jepang, Nintendo, pernah menciptakan perangkat virtual reality yang dinamakan Virtual Boy di tahun 1995 silam.

Meski memiliki ukuran yang tak jauh berbeda dengan perangkat headset virtual reality di masa sekarang, Virtual Boy menyajikan konten yang jauh tertinggal. Virtual Boy menyajikan game 3D eka warna dengan efek parallax.

Bisa dibayangkan betapa pusingnya teknologi virtual reality kala itu. Sayang, perangkat tersebut nyatanya tidak cukup futuristik untuk beredar di pasaran dan akhirnya dihentikan peredarannya 6 bulan setelah diluncurkan.

Kini, setelah hampir 20 tahun berselang, teknologi VR muncul kembali dengan bentuk dan konten lebih modern. Sejumlah perusahaan teknologi berlomba-lomba untuk menciptakan perangkat serupa, salah satunya adalah Samsung.

Vendor asal Korea Selatan ini tampaknya tak mau ketinggalan momen. Karenanya, Samsung kemudian menggandeng pakar virtual reality — Oculus -- untuk menggarap headset virtual reality bernama Gear VR. Selama bertahun-tahun melewati masa pengembangan, akhirnya perangkat ini menyambangi pasar Indonesia.

Dibanderol Rp 1,5 juta, Gear VR direncanakan untuk disebar ke seluruh pasar Indonesia pada akhir bulan Februari 2016. Beruntung, detikINET berkesempatan untuk menjajal terlebih dahulu Gear VR. Seperti apa rasanya? Simak impresi kami berikut ini.

Desain Bongsor nan Modern

Berbicara mengenai desain, harus diakui bahwa desain yang diusung oleh Gear VR memang bongsor dengan sentuhan gaya modern. Bila dibandingkan dengan Oculus Rift, Gear VR memiliki bentuk yang tidak jauh berbeda. Ya, ini karena baik Rift maupun Gear VR dikembangkan oleh perusahaan yang sama.

Yang membedakan di sini adalah mesin yang mengolah gambar virtual reality. Gear VR memiliki prinsip yang serupa dengan Cardboard, yakni menggunakan smartphone sebagai penampil virtual reality. Dengan kata lain, Gear VR diposisikan sebagai medium yang menopang smartphone untuk memproyeksikan konten virtual reality lewat aplikasi yang hadir di smartphone.
Sayangnya, bila Cardboard bisa dipakai di hampir semua smartphone (asal terdapat sensor Gyro), maka Gear VR hanya terbatas pada smartphone keluaran Samsung. Itu pun tidak semua seri Samsung bisa dipakai, hanya sebatas Galaxy Note 5, Galaxy S6, S6 Edge, dan S6 Edge+. Lalu bagaimana dengan smartphone lain? Nanti akan kami bahas di sesi berikutnya.

Tidak banyak perintilan yang hadir, hanya ada dua buah strap (tali) pengikat dan buku petunjuk beserta kartu garansi. Penggunaan strap hampir sama dengan Rift, yakni silang dari depan ke belakang dipadu dengan strap di samping kiri dan kanan. Karena terbuat dari bahan karet, strap Gear VR bisa menyesuaikan dan disesuaikan dengan ukuran kepala.

Bicara warna, Gear VR memang hanya hadir dengan cipratan warna kombinasi putih dan hitam. Dengan finishing semi dop, penggunaan yang tidak hati-hati bisa membuat warna putih tadi menjadi kusam. Samsung meletakkan hampir semua tombol navigasi di sisi kanan, sementara di sisi samping kiri terdapat tulisan Gear VR powered by Oculus.

Kontrol Gear VR bisa dilakukan dengan menggerakan kepala dan/atau menggunakan touch pad dan tombol back. Dari pengalaman detikINET, penggunaan touch pad sangat sensitif, malah terkadang terlewat sensitif. Seperti contoh, ketika akan menggeser-geser deretan konten yang tersedia konten kerap tidak sengaja terpencet.

Seperti yang dikatakan di awal, Gear VR bekerja dengan cara menyambungkannya dengan smartphone. Cara menyambungkannya terbilang mudah, cukup buka cover bagian depan dan colokan gadget dengan mikro USB yang tersedia di dalamnya. Sensor yang berada di bagian depan secara otomatis akan mendeteksi dan memulai konten apabila Anda mengenakan headset.

Masih Bikin Pusing?

Ketika berbicara virtual reality, tentu hal yang paling utama adalah soal konten. Dan hingga kini, rasanya sudah banyak developer-developer yang mengembangkan konten 360 derajat yang bisa kita jumpai di toko aplikasi digital. Khusus untuk Gear VR, Samsung menyediakan konten lewat Oculus Store.

Pihak Samsung Indonesia mengklaim bahwa saat ini sudah ada sekitar 150 konten yang sudah bisa dinikmati oleh pengguna Gear VR. Memang ketika membuka Oculus Store kami menemukan banyak sekali konten, mulai dari foto, video 360 derajat, hingga game. Meski demikian, sayangnya game atau aplikasi yang terlihat menarik tidak tersedia dengan cuma-cuma. Anda harus merogoh kocek minimal USD 5.

Konten virtual reality hingga kini identik dengan timbulnya rasa mual atau dikenal dengan istilah motion sickness. Meski Samsung mengklaim telah mengurangi rasa motion sickness tadi, faktanya masih ada pengguna yang merasakan hal seperti itu.

Dari pengalaman detikINET, beberapa pengguna kerap mengalami motion sickness dalam pemakaian beberapa menit. Namun, ada pula yang tahan lebih lama. Selain kebiasaan pengguna, rasa mual bisa jadi timbul akibat konten yang dilihat. Virtual reality akan terasa mual apabila konten tersebut bergerak sangat cepat. Seperti misalnya, game Temple Run VR atau menonton Roller Coaster.

Pun begitu, banyak pulan konten yang menyenangkan dan tidak membuat mual. Seperti menonton video bukan yang 360 derajat atau konten tersebut tidak membutuhkan respons gerakan cepat. Cukup diakui konten yang tersedia rata-rata sangat menghibur. Selain YouTube, Twitch, dan Vimeo, Anda juga bisa menyaksikan tayangan Netflix melalui Gear VR.

Memang tayangan seperti Netflix tidak hadir dengan format 360 derajat, tapi Anda akan merasakan sensasi menonton tayangan Netflix seperti sedang berada di dalam studio, lengkap dengan sofa dan kopi. Tak hanya sebatas konten yang ada di dalam Oculus Store, Anda juga bisa menyaksikan konten virtual reality lainnya yang tersedia di Google PlayStore selama smartphone tersebut tidak berada dalam kondisi menyolok USB.

Nah, seperti janji kami sebelumnya, bagaimana jika ingin memasangkan Gear VR dengan smartphone non Samsung? Jawabannya, bisa saja! Asalkan smartphone itu memiliki bentang layar antara 5-5,5 inch dan tidak dicolokkan dengan USB headset. Tapi itu juga tidak semua smartphone pas dengan slot headset. Terkadang, seperti Nexus 5 bisa terlepas dari cengkraman headset.
http://inet.detik.com/read/2016/02/10/093957/3138229/406/samsung-gear-vr-tenggelam-ke-dunia-virtual

Jumat, 18 Maret 2016

Virtual_Reality_post_2

Valve VR dan HTC Vive

Valve Masuki Kompetisi Virtual Reality Dengan SteamVR

Seperti pemain besar di industri teknologi lain, Valve melihat potensi luas yang menanti untuk dibuka dalam virtual reality. Di Steam Dev Days 2014, mereka ungkap keyakinan bahwa VR akan jadi platform besar melampaui TV dan teater. Tapi saat itu, Valve baru memperlihatkan dukungan dari sisi software. Kita penasaran, apa jadinya jika mereka buat perangkat VR sendiri?
Setelah setahun tanpa berita baru terkait perangkat VR Valve, akhirnya secara resmi mereka membuat pengumuman, “Jagat Steam sedang diperluas.” Valve tampaknya bermaksud menyingkap dan meluncurkan beberapa proyek besar di acara Game Developers Conference 2015 minggu depan. Beberapa telah dinanti dan sudah bisa diprediksi, namun hal paling menarik adalah disebutkannya sistem hardware SteamVR.
SteamVR awalnya merupakan software, sebuah medium agar Oculus Rift dapat bekerja optimal dengan Steam serta ekosistem Steam Machines. Ia dihadirkan via update Steam Client Beta, memungkinkan para pemilik headset VR milik Facebook itu menjajalnya dengan mengikuti beberapa instruksi. Tapi rencana Valve sebenarnya tidak terhenti sampai pada dukungan perangkat lunak, karena menciptakan device VR ialah visi jangka panjang Valve.
Mengutip dari penjelasan sang pembuat Half-Life di Steam Developer Days 2014, hardware akan dihadirkan dua tahun sesudah mulai digarap. Yang menjadi tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyiapkan isi Steam agar siap dinikmati dalam virtual reality. Valve juga tak malu memberi tahu bahwa mereka secara aktif sedang mencari para pencipta konten, mengajak talenta kreatif untuk ambil bagian dalam proyek tersebut.
Selain SteamVR, Valve turut menyebutkan agenda demonstrasi versi terbaru Steam Controller, serta beragam ‘perangkat khusus ruang keluarga’ baru. Anehnya Valve tidak menyinggung Steam Machines – PC bertema console dari produsen berbeda yang dipadu sistem operasi open-source SteamOS sebagai jantungnya. Perilisan Steam Machines terpaksa ditunda dari akhir 2014 ke awal 2015 sebab Valve merasa desain Steam Controller perlu dirombak kembali.
Pada tulisan kecil di bawah ‘The Steam Universe is expanding’, Valve menuturkan, “Ribuan game, jutaan gamer. Semua yang Anda cintai mengenai Steam, hadir tahun ini di keluarga baru perangkat hiburan bertenaga.” Sangat menarik bukan?
Jika Anda tertarik untuk mencoba Dev Kit SteamVR, silakan isi formulir di SteamPowered.com, diutamakan bagi para developer. GDC 2015 akan berlangsung tanggal 2 sampai 6 Maret 2015 di Moscone Center San Francisco. Sedangkan demo VR Valve dibuka mulai tanggal 4 Maret.

Valve Mulai Distribusikan HTC Vive Versi Developer


 

Dikerjakan bersama-sama oleh Valve Corporation dan HTC, perangkat head-mounted virtual reality Vive uniknya masih merupakan anggota keluarga RE – terdiri dari RE Camera dan RE Grip. Vive sangat menjanjikan karena bagian software serta hardware diramu oleh dua spesialis berbeda. Berita baiknya lagi, kita tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menjajal Vive.
Sebelum diungkap HTC di Mobile World Congress 2015 (menjelang ajang keynote Valve di Game Developers Conference 2015), beberapa buah model prototype telah Valve produksi dan demonstrasikan pada tahun 2014. Kedua perusahaan memang berencana melepas Vive di penghujung tahun ini, kurang lebih bulan November. Dan sesuai penjelasan mereka dulu, batch pertama versi developer baru saja didistribusikan.
Kabar tersebut muncul di laman Steam Community. Di sana Chet Faliszek dari Valve menginformasikan bagaimana Vive telah mulai dibagi-bagikan pada studio film Hollywood, developer kenamaan, hingga tim-tim developer game independen kecil minggu lalu. Proses shipping akan terus dilanjutkan hingga Musim Semi dan Panas, meski belum ada pengumuman mengenai seberapa banyak unit Vive yang telah disiapkan.


HTC Vive Developers Edition 02
Di dalam packaging Developer Edition, Anda akan menemukan satu unit perangkat virtual reality, dua buah base station Lighthouse, dua controller wireless SteamVR, kabel-kabel, lembar panduan, serta pernak-pernik pelengkap lain. Bundel ini sengaja diusung supaya mempermudah developer memproyeksikan sistem hardware milik konsumen saat versi retail tersedia nanti.
Valve dan HTC memang belum memublikasi spesifikasi kebutuhan perangkat keras buat mendukung Vive. Tapi berdasarkan laporan terdahulu, headset VR itu menyuguhkan refresh rate 90Hz, di mana konten di-render dalam 90 gambar per detik, serta mempunyai dua buah layar untuk masing-masing mata dengan resolusi 1200×1080-pixel. Device ditopang oleh lebih dari 70 sensor, termasuk MEMS gyroscope, accelerometer hingga sensor posisi laser.
Komponen paling menarik dari ekosistem SteamVR ialah Lighthouse. Valve tampaknya masih enggan menyingkap seluruh kemampuan serta rahasia Lighthouse. Pada dasarnya, ia adalah sistem laser-tracking 3D untuk mendeteksi posisi pengguna. Tugas unit base station adalah memproduksi laser dengan fungsi memindai ruangan, menjadikannya titik referensi, yang kemudian akan dibaca oleh sensor-sensor. Lighthouse beroperasi di ruang seluas 4,5×4,5 meter.
Sejauh ini cuma pemilik Vive Developers Edition saja yang dapat melakukan posting di forum SteamVR Hardware Group, tapi seisi komunitas turut diundang untuk membaca dan mengikuti kemajuan virtual reality sewaktu developer sibuk mengembangkan kontennya.

Source : https://dailysocial.id/post/valve-masuki-kompetisi-virtual-reality-dengan-steamvr/
Source :  https://dailysocial.id/post/valve-mulai-distribusikan-htc-vive-versi-developer/