Teknologi virtual reality yang sedang happening sejatinya bukan hal
baru. Teknologi visual ini bahkan sudah diakui keberadaannya sejak tahun
90-an. Kala itu perusahaan game raksasa asal Jepang, Nintendo, pernah
menciptakan perangkat virtual reality yang dinamakan Virtual Boy di
tahun 1995 silam.
Meski memiliki ukuran yang tak jauh berbeda
dengan perangkat headset virtual reality di masa sekarang, Virtual Boy
menyajikan konten yang jauh tertinggal. Virtual Boy menyajikan game 3D
eka warna dengan efek parallax.
Bisa dibayangkan betapa pusingnya
teknologi virtual reality kala itu. Sayang, perangkat tersebut nyatanya
tidak cukup futuristik untuk beredar di pasaran dan akhirnya dihentikan
peredarannya 6 bulan setelah diluncurkan.
Kini, setelah hampir
20 tahun berselang, teknologi VR muncul kembali dengan bentuk dan konten
lebih modern. Sejumlah perusahaan teknologi berlomba-lomba untuk
menciptakan perangkat serupa, salah satunya adalah Samsung.
Vendor
asal Korea Selatan ini tampaknya tak mau ketinggalan momen. Karenanya,
Samsung kemudian menggandeng pakar virtual reality — Oculus -- untuk
menggarap headset virtual reality bernama Gear VR. Selama bertahun-tahun
melewati masa pengembangan, akhirnya perangkat ini menyambangi pasar
Indonesia.
Dibanderol Rp 1,5 juta, Gear VR direncanakan untuk
disebar ke seluruh pasar Indonesia pada akhir bulan Februari 2016.
Beruntung,
detikINET berkesempatan untuk menjajal terlebih dahulu Gear VR. Seperti apa rasanya? Simak impresi kami berikut ini.
Desain Bongsor nan ModernBerbicara
mengenai desain, harus diakui bahwa desain yang diusung oleh Gear VR
memang bongsor dengan sentuhan gaya modern. Bila dibandingkan dengan
Oculus Rift, Gear VR memiliki bentuk yang tidak jauh berbeda. Ya, ini
karena baik Rift maupun Gear VR dikembangkan oleh perusahaan yang sama.
Yang
membedakan di sini adalah mesin yang mengolah gambar virtual reality.
Gear VR memiliki prinsip yang serupa dengan Cardboard, yakni menggunakan
smartphone sebagai penampil virtual reality. Dengan kata lain, Gear VR
diposisikan sebagai medium yang menopang smartphone untuk memproyeksikan
konten virtual reality lewat aplikasi yang hadir di smartphone.
Sayangnya, bila Cardboard bisa dipakai di hampir semua smartphone (asal
terdapat sensor Gyro), maka Gear VR hanya terbatas pada smartphone
keluaran Samsung. Itu pun tidak semua seri Samsung bisa dipakai, hanya
sebatas Galaxy Note 5, Galaxy S6, S6 Edge, dan S6 Edge+. Lalu bagaimana
dengan smartphone lain? Nanti akan kami bahas di sesi berikutnya.
Tidak
banyak perintilan yang hadir, hanya ada dua buah strap (tali) pengikat
dan buku petunjuk beserta kartu garansi. Penggunaan strap hampir sama
dengan Rift, yakni silang dari depan ke belakang dipadu dengan strap di
samping kiri dan kanan. Karena terbuat dari bahan karet, strap Gear VR
bisa menyesuaikan dan disesuaikan dengan ukuran kepala.
Bicara
warna, Gear VR memang hanya hadir dengan cipratan warna kombinasi putih
dan hitam. Dengan finishing semi dop, penggunaan yang tidak hati-hati
bisa membuat warna putih tadi menjadi kusam. Samsung meletakkan hampir
semua tombol navigasi di sisi kanan, sementara di sisi samping kiri
terdapat tulisan Gear VR powered by Oculus.
Kontrol Gear VR bisa
dilakukan dengan menggerakan kepala dan/atau menggunakan touch pad dan
tombol back. Dari pengalaman detikINET, penggunaan touch pad sangat
sensitif, malah terkadang terlewat sensitif. Seperti contoh, ketika akan
menggeser-geser deretan konten yang tersedia konten kerap tidak sengaja
terpencet.
Seperti yang dikatakan di awal, Gear VR bekerja dengan cara
menyambungkannya dengan smartphone. Cara menyambungkannya terbilang
mudah, cukup buka cover bagian depan dan colokan gadget dengan mikro USB
yang tersedia di dalamnya. Sensor yang berada di bagian depan secara
otomatis akan mendeteksi dan memulai konten apabila Anda mengenakan
headset.
Masih Bikin Pusing?Ketika
berbicara virtual reality, tentu hal yang paling utama adalah soal
konten. Dan hingga kini, rasanya sudah banyak developer-developer yang
mengembangkan konten 360 derajat yang bisa kita jumpai di toko aplikasi
digital. Khusus untuk Gear VR, Samsung menyediakan konten lewat Oculus
Store.
Pihak Samsung Indonesia mengklaim bahwa saat ini sudah ada
sekitar 150 konten yang sudah bisa dinikmati oleh pengguna Gear VR.
Memang ketika membuka Oculus Store kami menemukan banyak sekali konten,
mulai dari foto, video 360 derajat, hingga game. Meski demikian,
sayangnya game atau aplikasi yang terlihat menarik tidak tersedia dengan
cuma-cuma. Anda harus merogoh kocek minimal USD 5.
Konten virtual reality hingga kini identik dengan timbulnya rasa mual atau dikenal dengan istilah
motion sickness.
Meski Samsung mengklaim telah mengurangi rasa motion sickness tadi,
faktanya masih ada pengguna yang merasakan hal seperti itu.
Dari pengalaman
detikINET, beberapa pengguna kerap mengalami
motion sickness
dalam pemakaian beberapa menit. Namun, ada pula yang tahan lebih lama.
Selain kebiasaan pengguna, rasa mual bisa jadi timbul akibat konten yang
dilihat. Virtual reality akan terasa mual apabila konten tersebut
bergerak sangat cepat. Seperti misalnya, game Temple Run VR atau
menonton Roller Coaster.
Pun begitu, banyak pulan konten yang
menyenangkan dan tidak membuat mual. Seperti menonton video bukan yang
360 derajat atau konten tersebut tidak membutuhkan respons gerakan
cepat. Cukup diakui konten yang tersedia rata-rata sangat menghibur.
Selain YouTube, Twitch, dan Vimeo, Anda juga bisa menyaksikan tayangan
Netflix melalui Gear VR.
Memang tayangan seperti Netflix tidak
hadir dengan format 360 derajat, tapi Anda akan merasakan sensasi
menonton tayangan Netflix seperti sedang berada di dalam studio, lengkap
dengan sofa dan kopi. Tak hanya sebatas konten yang ada di dalam Oculus
Store, Anda juga bisa menyaksikan konten virtual reality lainnya yang
tersedia di Google PlayStore selama smartphone tersebut tidak berada
dalam kondisi menyolok USB.
Nah, seperti janji kami sebelumnya,
bagaimana jika ingin memasangkan Gear VR dengan smartphone non Samsung?
Jawabannya, bisa saja! Asalkan smartphone itu memiliki bentang layar
antara 5-5,5 inch dan tidak dicolokkan dengan USB headset. Tapi itu juga
tidak semua smartphone pas dengan slot headset. Terkadang, seperti
Nexus 5 bisa terlepas dari cengkraman headset.
http://inet.detik.com/read/2016/02/10/093957/3138229/406/samsung-gear-vr-tenggelam-ke-dunia-virtual